Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga - Yogyakarta

Gedung Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Labolatorium Agama - Masjid Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Pusat Tempat Ibadah di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

University Library - UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pusat Buku-Buku Referensi di UIN Sunan Kalijaga

Peta Keseluruhan Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga

Desah Lokasi Ruang di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Monday, February 13, 2017

Lowongan Kerja Februari 2017 di STIKES A. Yani

LOWONGAN KERJA

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

1. Dosen Farmasi

Syarat :
- Pria/wanita pendidikan S-2
- Konsentrasi di bidang Kimia Farma atau Farmasi Klinik

2. Dosen Teknologi Bank Darah

Syarat :
- Pria/wanita
- Pendidikan S-2 Biomedik atau dokter dengan S-2 Kesehatan
- Diutamakan dari peminatan Sains Transfusi Darah
- Berpengalaman di bidang transfusi darah

3. Dosen Rekam Medis

Syarat :
- Pria/wanita
- S-2 Kesehatan dengan latar belakang D-3 Rekam Medis atau
- Dokter dengan S-2

4. Pembimbing Praktikum

Syarat :
- Pria/wanita
- Pendidikan minimal D-3 Rekam Medis
- Diutamakan memiliki pengalaman kerja 3th di Bagian Rekam Medis Rumah Sakit

Lamaran bisa dikirim ke STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

Jalan Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55294

Paling lambat tanggal 22 Februari 2017

Monday, January 9, 2017

Akuntansi Syariah dengan Akad Murabahah


Akad adalah kesepakatan dalam suatu perjanjian antara dua pihak atau lebih untuk melakukan dan atau tidak melakukan perbuatan hukum tertentu (Najmudin, 2011). Karakteristik akad dalam melakukan dan atau tidak melakukan perbuatan hukum merupakan salah satu pokok terpenting sebagai pembeda dari praktik syariah dengan praktik non-syariah.
Rukun-rukun dari akad, sebagai berikut:
1. Ada para pihak,
2. Ada sighat,
3. Ada tujuan,
4. Ada ketetapan hukum syariat,
Unsur yang paling penting dari rukun akad di atas adalah niat, yang didasarkan pada aturan syariat maka dapat dipahami secara sadar bahwa konsekuensi yang timbul terkait kehidupan di dunia dan akhirat, dengan mengharap rahmat dari Allah SWT.
Sama halnya dengan pencatat akuntansi syariah memiliki karakteristik yang berbeda dengan akuntansi konvensional. Segala akun pencatatan disesuaikan dengan akad yang terbentuk, misalnya ada akad syirkah, jual-beli, sewa-menyewa, dan jasa.
Dari berbagai jenis akad memiliki karakteristik yang berbeda-beda mulai pengelolaan dana, perputaran barang/jasa, penerimaan keuntungan, penangguhan kerugian, persediaan barang/jasa, dan sebagainya.
Kita dapat mengambil contoh dari akad murabahah, yakni menggunakan konsep akad yang sama dengan jual-beli. Unsur terpenting dari akad jual-beli adalah ada perbedaan dari harga beli dengan harga jual atau bisa antara keduanya itu sama.
Misal dari akuntansi syariah dalam pencatannya,
Harga beli                       xxx
Kas                                  xxx
Kas                                  xxx
Harga jual                       xxx
Writter : Arif Budiono

Wednesday, September 28, 2016

BAB Thaharah (Bersuci) Dalam Islam

THAHARAH ITU UTAMA SEBELUM AMAL

 "Pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy Syu'ara [26]: 88-89)
"Katakanlah kepada para hamba-Ku Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)." (QS. Al Isra [17]: 36)
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, kesemuanya itu akan dimintai pertanggungjawabnya." (QS. Al Isra [17]: 36)


Pada firman Allah 'azza wa jalla di atas yang jelas secara tekstual dari thaharah ada pada QS Asy Syu'ara [26] ayat 88-89 bahwa bersihnya harta dan anak yakni keturunan tidak berguna, sia-sia, tidak diterima amalan seseorang dihadapan Allah SWT. Bersih disini bukan hanya berarti menyucikan seperti halnya menurut bahasa, kata thaharah yakni bersuci apabila akan melakukan shalat contohnya. Wudhu sebagai tempat untuk menyucikan  fisik atau jasmani dan tujuannya untuk menghadap Allah SWT.

Bersihkan dahulu diri seorang hamba-Nya sebelum menghadap Sang Kuasa, Allah Yang Maha Kuasa. saat itu juga telah suci diri seorang hamba sehingga dapat menghadap ke Allah SWT dan walaupun sudah suci seorang hamba Allah SWT bukan berarti suci seterusnya sampai dia selesai (finish) dalam amalannya khususnya dalam hal ini ibadah shalatnya. Masih perlu dibenarkan dan butuh pengetahuan untuk hal itu agar amalan yang dikerjakan (shalatnya) dapat diterima dihadapan Allah SWT.

BERSIH ITU BUKAN HANYA DI AWAL WAKTU, NAMUN JUGA PADA AWAL, TENGAH, DAN AKHIR AMALAN.

"Allah tidak akan menerima shalat seseorang di antara kalian apabila berhadats, sehingga ia berwudhu." (HR. Bukhari)
Kemudian dalam hadits di atas menambahkan ketegaskan bahwa hamba Allah SWT itu suci, suci ketika di awal waktu dan juga di tengah serta di akhir sehingga bersih semua amalan yang dia lakukan dengan tujuan menghadap kepada Allah.

Hal shalat tersebut itu pun dijelaskan oleh Imam Asy Syafi'i dengan kondisi dan pun alasan yang bersifat urgen bahkan pada kondisi tersebut tidak dapat melakukan wudhu atau bersuci sebelum melakukan shalat (amal) yakni ada 4 (empat) pendapat:

Pertama, Orang tersebut wajib mengerjakan shalat dengan kondisi dialaminya dan ia harus mengulangi shalatnya apabila telah memungkinkan baginya untuk bersuci.
Kedua, Dilarang mengerjakan shalat pada saat itu, akan tetapi ia harus mengqadha'nya.
Ketiga, Disunnatkan baginya mengerjakan shalat, tetap harus mengqadha'nya di lain waktu.
Keempat, Ia harus mengerjakan shalat pada saat itu dan tetap harus mengqadha'nya pada waktu yang lain.

Suci itu terbagi menjadi 2 (dua),
1. Suci Secara Lahir
Suci secara lahir adalah suci dari segala macam kotoran atau suci dari hadats.
Bersuci dari kotoran itu dapat dilakukan dengan cara menghilangkan seluruh najis yang menempel dengan menggunakan air yang bersih, baik dari pakaian, badan maupun tempat shalat. Sedangkan bersuci dari hadats adalah dengan berwudhu', mandi atau bertayamum.

2. Suci Secara Batin
Suci secara batin berarti membersihkan jiwa dari dosa dan semua perbuatan maksiat. Yaitu, dengan cara bertaubat secara sungguh-sungguh dari segala macam dosa dan perbuatan maksiat. Juga membersihkan hati dari perasaan syirik, keragu-raguan, dengki, iri hati, tipu daya, kesombongan, 'ujub, riya' dan sum'ah. Menanamkan keikhlasan, keyakinan, kecintaan kepada kebaikan, kelembutan, kejujuran, tawadhu' (rendah hati) serta menghendaki keridhaan Allah azza wa jalla dalam segala bentuk niat yang dimunculkan dan mengerjakan amal-amal shalih seperti shalat.

Referensi Bacaan
'Uwaidah, Syaikh Kamil Muhammad. 2000. Edisi Indonesia: FIQIH WANITA (Edisi Lengkap). Penerjemah: M. Abdul Ghoffar E. M. Jakarta: Darul Kutub
Mushaf An Nahdlah. 2014. Al Qur'an dan Terjemah .Jakarta: PT Hati Emas

Thursday, August 25, 2016

Berawal Dari Niat - before Do It



Perbuatan atau aktivitas yang dilakukan setiap harinya merupakan bagian dari kehidupan dimana setiap manusia membutuhkannya bahkan tidak dapat terlepas dari hal tersebut. Tujuan dari aktivitas setiap manusia (insane) juga masing-masing berbeda-beda dikarenakan segalanya berujung pada niat dari masing-masing. Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khathab ra, berkata aku mendengar Rasulullah saw, bersabda Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju. (Diriwayatkan oleh 2 (dua) ahli hadits: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairy An Naisaburi)
Sababul wurud (latar belakang hadits) di atas sebagai mana diriwayatkan Imam At Tabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir bahwa Ibnu Mas’ud berkata,” Di antara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita, bernama Ummu Qais. Namun, wanita itu menolak sehingga ia berhijrah ke Madinah. Maka laki-laki tersebut ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan Muhajir Ummu Qais.”
Dalam riwayat lain, yang diriwayatkan oleh Sa’id Ibnu Manshur dalam kitab Sunan-nya bahwa Ibnu Mas’ud berkata,”Siapa yang hijrah untuk mendapatkan kepentingan duniawi maka pahala yang didapat sebagaimana yang didapat oleh laki-laki yang hijrah untuk menikahi wanita yang bernama Ummu Qais, hingga ia dijuluki Muhajir Ummu Qais.”
Dari latar belakang hadits terkait segala perbuataan itu tergantung pada niatnya, seperti itu dapat terjadi pada berbagai aspek baik itu terkait ibadah kepada Allah SWT ataupun interaksi sesame manusia. Namun pada hadits di atas hanya menjelaskan terkait niat pada masing-masing perbuatan
REFERENSI :
Bulgha, Musthafa Dieb dan Muhyiddin Mistu. 1423 H/ 2003 M. Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah saw: Syarah Kitab Arba’in An-Nawawiyah (Penerjemah: Muhil Dhofir). Jakarta: Al I’tishom
Jasiman. 1437 H/ 2016 M. Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah. Solo: PT Era Adicitra Intermedia

Saturday, August 20, 2016

Sumber Rezeki Baca Surah Al Waqi'ah - True Story






Bisa dibilang, tahun 2003 adalah tahun bintang yang  bersinar sangat terang bagiku, karena pada sepanjang tahun itu Allah selalu menghujaniku dengan rezeki yang tak pernah aku sangka sebelumnya, Pada tahun 2003 itu rezeki bisa aku dapatkan tanpa harus menyeberangi lautan kesusahan. Rezeki itu datang tanpa aku harus menjemputnya. Sungguh, tahun itu adalah tahun yang cemerlang di masa-masa remajaku.

Setelah aku amati, apa rahasia kelancaran rezekiku, ternyata terletak pada surah Al-Waqi’ah, yang selalu aku baca di antara waktu maghrib dan isya’. Terbukti setelah aku pernah lalai membaca surah Al-Waqi’ah di tahun 2004, rezekiku pun ikut seret meskipun tetap mengalir. Namun, tak selancar pada tahun sebelumnya saat aku rajin membacanya.
Kejadian berawal ketika ekonomi kami sekeluarga sangat rapuh. Kamu sebelumnya memang tergolong dari keluarga pas-pasan. Saat itu utang Ibu sangat besar hingga mencapai jutaan rupiah, yang di luar kekuatan kami untuk membayarnya. Saat itu juga usiaku tengah menginjak remaja, yang juga sangat membutuhkan dana untuk mejeng dengan mode-mode busana terbaru. Saat itulah aku sadarkan untuk tidak ikutan hura-hura dengan remaja lainnya, tapi lebih suka membantu Ibu mengatasi masalah ekonominya. Karena tinggal aku yang tinggal bersama Ibu, sementara saudara-saudaraku telah menikah dan kawin mengikuti suami masing-masing.
Kebiasaanku saat kecil adalah membaca surah-surah Al Qur’an, seperti surah Yassin, Al Waqi’ah, Al Mulk, Sajadah, dan sebagainya. Pada saat kesulitan menimpa keluargaku, aku tiba-tiba terpanggil untuk membaca surah Al-Waqi’ah.
Aku tidak ingin berpangku tangan begitu saja dengan berdoa terus untu bisa mengatasi kesulitan. Aku kemudian mencoba bekerja. Tapi, Ibu selalu melarang. Beliau selalu berkata,” Kamu tidak usah mikir masalah pekerjaan”. Namun, bagaimana pun aku tak bisa hidup tenang dengan persoalan Ibu. Hingga pada suatu hari di akhir Januari 2003 datang seorang teman yang menyuruh aku mempromosikan salah satu produk kecantikan dengan sistem Multi Level Marekting (MLM). Aku semula hanya tertarik untuk sekadar membantu. Untungnya memang tidak seberapa.
Kemudian, aku minta izin kepada Ibu untuk mencari sendiri pertokoan yang bisa menjadi outlet produk yang kami jual. Beliau memberi izin. Sejak saat itu, tepatnya tanggal 3 Februai 2003, dengan modal pinjaman Ibu sebesar Rp 150.000,- aku memulai usahaku. Alhamdulillah, tak disangka pesanan membanjir. Aku bisa meraih untung hingga tiga kali lipat. Aku sangat bersyukur. Begitu juga Ibu, yang sangat bahagia dengan keberhasilanku. Pada bulan berikutnya aku membuat kerja sampingan dengan menjual perhiasaan putihan seperti cincin monel, kalung monel, dan lain-lain. Alhamdulillah, ini pun mendapat respons yang sangat memuaskan.
Aku pun tak berhenti di situ saja. Sebab, agaknya, jalan bisnis yang dibukakan Allah mulai terbuka untukku. Aku mencoba menjual pakaian muslimah serta pakaian anak-anak. Semua berjalan dan mendapat sambutan konsumen. Belum dua minggu dari usahaku yang mulai meletihkan ini, sudah mulai ada yang melamar menjadi karyawan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan aku lalui dengan bergelimang rezeki.
Dalam masa 2003 itulah persoalan ekonomi keluargaku kembali normal. Utang-utang Ibu bisa dilunasi.
Pada dasarnya aku memang tak pernah mengetahui penyebab rezekiku itu. Keberhasilan itu memang kemudian berimbas pada kemalasanku membaca surah Al-Waqi’ah lagi. Pada tahun 2004 aku mulai lalai membacanya. Tiba-tiba rezekiku berjalan seret dan melambat, meski masih jalan juga dan mencukup untuk kehidupan sehari-hari.
Dari kejadian itu aku mulai mencari penyebabnya. Ternyata penyebab kelancaran rezeki selama ini adalah kebiasaanku membaca surah Al Waqi’ah yang kadangkala aku baca hingga tiga kali dalam semalam. Dalam sebuah buku aku baca kemudian bahwa Rasulullah bersabda,”Barang siapa membaca surah Al Waqi’ah setiap malam, tia tidak akan miskin selamanya”. Rasulullah juga bersabda,” Surah Al Waqi’ah adalah surah kekayaan. Bacalah selalu dan ajarkan anak-anak kalian untuk membacanya”. Dalam hadits yang lain disebutkan,”Ajari wanita-wanita kalian baca surah Al-Waqi’ah, karena surah itu adalah surah kekayaan”.
Hari berikutnya aku pun mulai lagi untuk membacanya, seperti halnya yang sudah-sudah. Kali ini pun aku membacanya, seperti halnya yang sudah-sudah. Kali ini pun aku membacanya bukan bertujuan untuk tujuan mencari rezeki. Semuanya aku serahkan kepada Allah. Berapa pun Allah memberikan rezeki kepadaku, itulah yang harus aku terima dengan senang hati.
Alhamdulillah, dengan membaca Al Waqi’ah itu semuanya kembali menjadi lancer. Dan rezeki yang kami terima itu ternyata berkah juga.
Inilah kisah nyataku. Semoga pembaca yang lain bisa mengikuti jejakku dan bangsa ini menjadi bangsa yang kuat dan berkah secara ekonomi.

Sumber :
Mutma’innatul Mardiyah, Al Kisah Majalah Kisah & Hikmah No. 16, 2-15 Agustus 2004